Perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang akan berubah. Kecenderungan karakter konsumen yang akan terjadi pada masa depan dan sudah mulai dapat dirasakan saat ini antara lain adalah tuntutan konsumen terhadap keamanan, nilai gizi, cita rasa, dan ketersediaan pangan akan meningkat pesat.Keamanan dan mutu pangan akan menjadi isue penting, walaupun mungkin ketahanan pangan masih menjadi isue yang tidak kalah penting. Di Indonesia, pasar modern (hypermarket, supermarket, minimarket) akan tumbuh dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Walaupun jumlah supermarket chain besar berkurang, tetapi yang bertahan makin besar, sehingga keseimbangan kekuatan bergesar dari produsen/petani ke perusahaan multinasional. Kondisi ini akan menyebabkan adanya kompetisi antara produk pangan domestik dengan produk impor (yang sering kali lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah). Tuntutan konsumen terhadap produk pertanian pada masa depan akan semakin meningkat, yang mau tidak mau, akan mempengaruhi kecenderungan manajemen produksi tanamanan. Tuntutan konsumen tersebut antara lain adalah:
1.
Produk pertanian harus benar-benar aman, bebas dari
cemaran, racun, pestisida, & mikroba berbahaya bagi kesehatan. Aturan
mengenai batas maksimum residu (MRL = maximum reside limit) pestisida
akan semakin ketat, sehingga akan mempengaruhi pengelolaan dalam perlindungan
tanaman. Produk pangan juga harus bebas dari kandungan zat berbahaya, termasuk
logam berat dan racun.
2.
Produk pangan juga dituntut mempunyai nilai gizi
tinggi dan mengandung zat berkhasiat untuk kesehatan. Konsumen menghendaki
informasi mengenai kandungan fitokimia yang berkhasiat untuk meningkatkan
kesehatan dalam produk pangan. Karena itu penelitian mengenai manfaat
produk-produk pertanian tanaman pangan Indonesia perlu mulai segera dilakukan.
Pengetahuan indigenous mengenai manfaat produk pangan perlu dibuktikan secara
ilmiah dan diketahui apa fitokimia yang terkandung di dalamnya.
3.
Produk pangan juga harus mempunyai mutu tinggi, tidak
sekedar enak. Mutu adalah segala hal yang menunjukkan keistimewaan atau derajad
keunggulan sesuatu produk.
4.
Produk pertanian harus diproduksi dengan cara yang
tidak menurunkan mutu lingkungan. Tuntutan terhadap kelestarian lingkungan akan
semakin ketat, padahal pada saat yang sama tekanan populasi terhadap sumberdaya
lahan semakin kuat. Karena itu peneliti Indonesia perlu mengembangkan teknologi
pertanian yang dapat menjamin produksi pangan yang memenuhi tututan konsumen
namun tetap dapat menjaga kelestarian lingkungan, mencegah pencemaran tanah dan
air, mencegah erosi dan hal-hal lain yang menyebabkan penurunan kualitas
lingkungan.
5.
Produk pertanian juga harus diproduksi dengan
memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan petani dan pekerja.
6. Mempunyai
traceability. Cara produksi pangan harus dapat dirunut dari pasar sampai kebun.
Data-data harus transparan dan jujur. Karena itu catatan aktivitas di kebun dan
rantai pasar harus menajdi perhatian.
7. Produk
pangan harus tersedia dalam waktu yang tepat. Selain persyaratan di atas,
produk pertanian harus tersedia dan tepat waktu. Untuk produk pangan tertentu
kontinyuitas penyediaan menjadi faktor yang sangat penting.
8. Harga jual
produk pertanian harus kompetitif. Untuk itu efisiensi dalam produksi, dalam
delivery harus dilakukan. Harus dikembangkan supply chain management (SCM) yang
berkeadilan dan berorientasi pada nilai produk.
Berdasarkan
tuntutan konsumen, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pertanian
Indonesia agar keinginan dari konsumen dapat dipenuhi dan juga untuk
memperbaiki keunggulan pertanian di indonesia, untuk itu harus adanya srategi
dalam menyingkapi masalah ini, adapun strategi yang dapat ditempuh diantaranya
:
1.
Pengembangan
Sumberdaya Manusia.
Pengembangan
SDM pertanian tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam
penerapan teknologi pertanian, tetapi juga untuk meningkatkan motivasi dan
persepsi tentang pertanian modern, dan juga untuk perbaikan moral, transformasi
tradisi dan kultur menjadi pertanian berbudaya industri.
2.
Penyempurnaan kelembagaan
Petani dan Pertanian
Salah satu penyebab rendahnya daya saing pertanian Indonesia adalah
sempitnya lahan pertanian yang dikelola petani. Dalam kondisi seperti itu,
petani pada umumnya mengelola lahan sempitnya secara sendiri-sendiri, tidak ada
konsolidasi dalam pengelolaan lahan. Karena itu kelembagaan petani juga harus
disempurnakan. Rekayasa sosial, penguatan kelembagaan, dan pendampingan oleh
pakar menjadi kunci penting untuk peningkatan daya saing produk pertanian
Indonesia.
3.
Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi.
Produktivitas
dan efisiensi dapat ditingkatkan antara lain dengan penerapan teknologi yang tepat. Good
Agriculture Practices, Good Handling Practices, dan Good Manufacturing
Practices, menjadi salah satu pilar dalam meningkatkan produktivitas dan
efisiensi. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan sarana dan prasarana yang
memadai, antara lain adalah: peta perwilayahan komoditas, sumber air irigasi
yang mencukupi, jalan usahatani yang mendukung penyaluran hasilpertanian,
perusahaan pembibitan yang profesional, laboratorium analisis tanah, stasiun
meteorologi yang dapat memberikan informasi cuaca yang dapat diandalkan, klinik
tanaman, laboratorium pengendali kualitas dan sarana pasca panen dan gudang
yang memadai.
4.
Peningkatan
Nilai Tambah Produk Pertanian.
Peningkatan
nilai tambah diarahkan kepada peningkatan pendapatan masyarakat petani dan
perdesaan di luar kegiatan on farm, sekaligus mendukung kebijakan lahan
pertanian, dengan banyaknya peluang pendatan dari kegiatan off farm.
Peningkatan nilai tambah dapat dicapai melalui Pengembangan industri pertanian,
pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan, penguatan kelembagaan,
profesionalisme tenaga kerja, sistem mutu produk pertanian, dan peningkatan
daya saing produk dan pemasaran.
5.
Usaha untuk
Kemandirian Pangan.
Strategi kemandirian pangan diarahkan pada
pemenuhan pangan nasional secara mandiri berdasarkan sumberdaya alam, kemampuan
produksi dan kreativitas masyarakat.
6.
Pengelolaan
Lingkungan Hidup yang Produktif dan Lestari.
Pengelolaan
lingkungan hidup yang produktif dan lestari diarahkan untuk terpeliharanya daya
dukung lingkungan dengan produktivitas yang tinggi secara berkelanjutan,
keaneka ragaman hayati serta keseimbangan interaksi antara semua unsur dan
faktor lingkungan. Pengelolaan lingkungan yang produktif dan lestari
dilaksanakan melalui upaya pengembangan sumberdaya alam secara lestari,
pemberdayaan masyarakat, reklamasi lahan, perluasan areal pertanian dan
pengadaan lahan pertanian pangan abadi.
7.
Penyempurnaan
Sistem Pemasaran Produk Pertanian.
Perlu dilakukan
pemberdayaan rantai pasar dengan Penerapan Supply-Chain Management,
sehingga tipe dan karateristik hubungan bisnis berubah dari tipe transaksional
menajdi tipe partneship.
8.
Kebijakan Makro
yang Mendukung Pertanian.
Untuk mendukung
semua hal di atas, perlu kebijakan makro yanh mendukung pertanian, ialah:
Ø pertanian menjadi platform pembangunan nasional.
Ø akses pertanian terhadap lahan, modal, teknologi dan informasi memadai.
Ø infrastruktur pertanian dan yang mendukung pertanian dikembangkan.
Ø ektor industri dan jasa berkembang dengan pesat sehingga mampu menyerap
tenaga kerja dari perdesaan dan sektor pertanian.
Ø dilakukan pemberdayaan masyarakat perdesaan.
A.
POLA PERTANIAN MASA DEPAN
Menghadapi tantangan yang makin besar tersebut, pertanian masa depan tidak
akan bisa bertahan hanya dengan pola seperti pertanian saat ini (konvensional).
Tetapi pertanian konvensional masih akan memegang peran yang cukup penting.
Pada masa yang akan datang akan ada 3 pola pertanian penting, ialah:
A.
pertanian konvensional
Pertanian ini mengandalkan input dari luar sistem pertanian, berupa energi,
pupuk, pestisida untuk mendapatkan hasil pertanian yang produktif dan bermutu
tinggi. Pada masa yang akan datang sistem pertanian ini akan lebih ramah
lingkungan bersamaan dengan lebih banyak input teknologi. Perkembangan atau
kemajuan pertanian konvensional pada masa depan dibandingkan masa sekarang
terjadi karena peran penelitian bidang ekofisiologi dan pumuliaan tanaman,
serta karena tuntutan masyarakat. Kemajuan itu antara lain berupa:
Ø Digunakannya varietas-varietas tanaman yang lebih produktif, lebih bermutu,
lebih tahan atau toleran pada hama dan penyakit utama, lebih tahan pada
kekurangan air dan hara, serta dapat berproduksi tinggi pada lahan-lahan
marginal.
Ø Lebih memanfaatkan biota di lingkungan pertanian, baik untuk meningkatkan
kesuburan lahan, maupun toleransi terhadap OPT.
Ø Penggunaan pupuk akan lebih bijaksana, berdasarkan Integrated Plant
nutrition System, sehingga tidak berlebih, berdasarkan kebutuhan riel tanaman,
tidak banyak yang tercuci dan mencemari lingkungan.
Ø Penggunaan pestisida akan sangat berkurang; pengendalian organisme
pengganggu tanaman akan berdasarkan PHT.
Ø Konsolodasi lahan-lahan pertanian akan terjadi, sehingga pengelolaan sistem
produksi akan lebih mudah.
Ø Tenaga kerja di pertanian berkurang karena urbanisasi dan menjadi pekerja
pada sektor industri, sehingga:
·
terjadi
peningkatan mekanisasi pertanian.
·
input energi
biologi (tenaga ternak atau tenaga manusia) akan banyak diganti energi mekanik
berbasis biologi, seperti biodisel maupun bioetanol.
·
daya tawar
petani dan buruh tani lebih tinggi, sehingg kesejahteraannya meningkat.
Ø Produktivitas pertanian akan meningkat lagi setelah leveling off yang
terjadi bisa diatasi. Produksinya juga lebih bermutu, lebih bergizi, lebih aman
karena sistem pertanian dikelola dengan lebih baik.
Ø Petani akan mempunyai catatan pertanian, sehingga tuntutan terhadap traceability
dapat dipenuhi.
B.
Pertanian konservasi
Pada pertanian konservasi, prinsip utamanya adalah pertanian yang
mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian alam. Dengan pertanian
konservasi diusahakan agar tidak terlalu banyak gangguanan ekosistem dalam alam
pertanian. Pertanian ini lebih mengandalkan mekanisme ekobiologi dari alam
sehingga input yang diberikan pada sistem pertanian ini diusahakan serendah
mungkin.
Pertanian ini akan sangat produktif,
produknya bermutu tinggi, aman, kandungan gizi dan zat berkhasiat yang ada di
dalamnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Karena itu, pertanian ini memerlukan
input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun energi. Pertanian
ini bisa mengatasi kendala dan hambatan alam, bisa sangat efisien tepai bisa
juga tidak efisien.
B. PENYULUHAN PERTANIAN DI MASA DEPAN
Di masa mendatang, kegiatan penyuluhan
pertanian akan menghadapi tantangan-tantangan, terutama yang diakibatkan oleh pertumbuhan
populasi penduduk di tengah-tengah semakin sempitnya lahan pertanian, sehingga
usahatani harus semakin meng-khususkan diri serta meningkatkan efisiensinnya.
Dalam
perspektif pemerintah, apapun prioritas yang akan ditempuh, kegiatan penyuluhan
pertanian akan tetap menjadi kebijakan kunci untuk mempromosikan kegiatan
Pertanian Lestari, baik dalam kontek ekologi maupun sosial-ekonomi
ditengah-tengah sistem pemerintahan yang birokratis dan semakin terbatas
kemampuannya untuk membiayai kegiatan-kegiatan publik. Di lain pihak, kegiatan
penyuluhan harus semakin bersifat “partisipatip” yang diawali dengan analisis
tentang keadaaan dan kebutuhan masyarakat melalui kegiatan Penilaian Desa
Partisipatip atau participatory rural appraisal/PRA (Chambers, 1993). Meskipun
demikian, kegi-atan penyuluhan pertanian akan banyak didukung oleh kemajuan
teknologi informasi.
Karena itu, di masa depan, kekuatan dan perubahan penyuluhan pertanian akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan dikemukakan berikut ini (Rivera & Gustafson, 1991):
Karena itu, di masa depan, kekuatan dan perubahan penyuluhan pertanian akan selalu terkait dengan keempat hal yang akan dikemukakan berikut ini (Rivera & Gustafson, 1991):
1) Iklim
ekonomi dan Politik
Sejak krisis ekonomi dan
politik melanda beberapa negara pada akhir abad 20, banyak negara yang tidak
lagi mampu membiayai kegiatan publik di tengah-tengah tuntutan demokratisasi.
Karena itu, kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan seca-ra lebih efisien untuk
dapat melayani kelompok sasaran yang lebih luas, dan di lain pihak, pemerintah
akan lebih banyak menyerahkan kegiatan penyuluhan kepada pihak swasta.
2) Konteks sosial di wilayah pedesaan
Di masa depan, masyarakat
pedesaan relatif berpendidikan, lebih banyak memperoleh informasi dari media
masa serta terbuka dari isolasi geograpis, lebih memiliki aksesibilitas dengan
kehidupan bangsanya sendiri dan dunia internasional. Karena itu, penyuluhan
pertanian harus mampu menjawab tantangan pertumbuhan penduduk, meningkatnya
urbanisasi, perubahan aturan/kebijakan, persyaratan pasar, serta kebutuhan
masyarakat akan beragam.
3) Sistem
Pengetahuan
Terjadinya perubahan politik
yang berdampak pada debirokratisasi, desentralisasi (pelimpahan kewenangan) dan
devolusi (penyerahan kewenangan) kepada masya-rakat lokal, juga akan berimbas
pada pengembangan usaha tani yang memiliki spesifikasi lokal. Pengakuan
terhadap pentingnya spesifikasi lokal, harus dihadapi dengan pengakuan penyuluh
terhadap kemampuan petani, pengalaman petani, penelitian yang dilakukan petani,
serta upaya-upaya pengembangan yang dilakukan.
4) Teknologi
Informasi
Perkembangan telekomunikasi dan
penggunaan komputer pribadi/PC akan sangat berpengaruh terhadap kegiatan
penyuluhan pertanian di masa depan.
Kelompok sasaran yang memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi informasi/IT akan relatif lebih independen. Dengan demikian, fungsi penyuluh tidak lagi “menyampaikan pesan” melainkan lebih pada menjalin interaksi yang partisipatip dengan kelompok-sasarannya.
Kelompok sasaran yang memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi informasi/IT akan relatif lebih independen. Dengan demikian, fungsi penyuluh tidak lagi “menyampaikan pesan” melainkan lebih pada menjalin interaksi yang partisipatip dengan kelompok-sasarannya.
Ø (http://www.academia.edu/5533585/Pertanian_Masa_Depan)



Semoga pertanian Indonesia bisa Maju
BalasHapus